Selasa, 10 Mei 2011

Sang Penjaga (2)

Suara bantingan pintu, menyambut kedatanganku.
"Mbak, gak apa-apa?"tanya pembantuku, Yani matanya melebar melihat penampilanku yang begitu kotor dan lusuh. "Gak apa-apa kok, tadi aku ngebantuin teman-teman bikin mading di kelas...ini cat"aku menunjuk pada tanganku yang berdarah akibat memegang pecahan beling tadi. Ia hanya menjawab dengan tundukan kepala. Secepat mungkin aku mengurung diri di kamar, berbagai emosi menyerang dalam sekaligus. Bersalah, karena telah melukai sohib, orang yang paling kupercayai, kecewa, orang yang kukagumi sekarang sudah jatuh begitu, marah, menyesal dan yang paling utama rasa kesendirian yang luar biasa. Walau temanku ada banyak selain Nana, tapi tetap saja selama ini aku dan Nana itu bagai keluarga. Sekarang, setelah apa yang telah terjadi bagaimana kita bisa kembali seperti semula?

Andai saja di hidup ini terdapat tombol reset, dengan begitu mungkin perkelahian itu tak akan terjadi,mungkin aku tak akan menggila, tak akan melukai seorang wanita hamil , dan juga tidak akan kehilangan Nana. "bodoh, harusnya kau lebih bisa menahan diri, padahal tangannya tadi juga udah terluka habis mecahin kaca, kau cuman memperburuk kondisi saja tau...."aku mengkritik diriku sendiri, menahan rasa sakit yang mulai memilukan kakiku. Dan bagai orang bego yang tak punya akal sehat saja, aku menangis. Padahal aku sadar...
bahwa air mata itu hanya akan terbuang sia-sia.

Esoknya, semua orang memergokiku . Jika aku mendengar satu orang lagi bertanya 'kenapa?', sepertinya aku harus memotong telinga sendiri. Tangan kananku diperban, paha kiri juga, tapi ditutupi rok abu panjangku sehingga tak terlihat. Seraya mengerjakan tugas, kutatap bangku Nana hampir tanpa henti. Kosong, seperti yang telah kuduga. "Mungkin dia tak akan pernah kembali"pikirku, antara lega dan rindu. Suara ringtone hpku menyadarkanku dari lamunan. "wah-wah"pikirku terkesima, sms dari Ibu-cukup langka, wajib diarsip.

Kubaca isinya 'Kamilla, hari minggu nanti ibu dan ayah akan pulang kali ini kami bawa oleh-oleh. Sampai nanti, love Mom'. 
'love u too'terkirimlah balasanku. Yah, baguslah mereka balik...mungkin mereka akan membantu menyingkirkan mood burukku ini. Hari pun berlalu, pikiran dan emosi masih kacau bagai angin topan-uniknya di saat-saat ini justru aku menjadi lebih rajin, dan gambar desain bajuku meningkat...galau mungkin pendorong semangatku kali ya, aneh.

....Tak seorang pun melihat Nana.

Hari H pun tiba, ortuku bakal pulang. Sedihnya, hujan sepertinya menghalangi kedatangan pesawat  mereka. "lama banget, emang pesawat dari Australia berapa jam sih", dengan gelisah aku lari-lari kecil memutari kasur. "ting-tong"bel pintu berbunyi. "panjang umur", akhirnya datang juga. Sebelum pembantu sempat menuju pintu, aku sudah siap, memegang gagang pintu dan membawa payung, senyum lebar tertempel di wajahku. "Ibu!Ayah!"

"Hai...."
sayangnya, yang orang yang datang bukan yang kuharapkan. Justru sebaliknya.
"Nana...", bajunya basah kuyup rambutnya basah seperti keramas. Kepalanya mendongak ke arahku "aku tahu, ini mungkin bukan waktu yang terbaik tapi...aku butuh tempat untuk menginap"pintanya malu-malu.
"emang kau pikir aku akan biarkan kamu masuk?"jawabku sinis.
Dia menahan pintu, yang tadi sudah siap kututup. "tidak, aku tak mengharapkan kau menolongku sedikitpun"suaranya mengeras, nada tegas. Ia mengelus perutnya.
"Tapi aku harap kau akan menolong janin yang tumbuh di dalam perutku ini." Keningku berkerut, dia akan merawatnya?

Walau ragu, aku mempersilahkannya masuk. Yani terus melototi kita berdua dari belakang, pasti heran kenapa aku dan Nana tak bertingkah seperti biasanya. "Yani, tolong bikinan teh dan bawa ke kamarku, kalau ortuku  pulang, kasih tau ya". Ia menuruti perintahku. Kami berdua diam di kamar, keheningan memenuhi ruangan. Suara dentingan sendok mengenai cangkir hanyalah  satu-satunya suara yang bisa kudengar.

Nana-mungkin kesal, mulai mengelilingi kamar, mengamati semua pernak-pernikku. "koleksi poster Daniel Radcliffemu meningkat ya". Ia mencoba memulai percakapan, aku tak menyahut. Ia mengamati madingku "rancangan bajumu jadi banyak, kau jadi sibuk ya". "...yah mumpung temanku yang suka main udah ditelan bumi"aku kembali menyindir, dia pura-pura tak mendengar. Setelah kulihat dia baik-baik, ternyata badannya mengurus, kulitnya kusam, dan tangan kirinya sekarang dihiasi lubang. Perutku seolah melilit melihat luka tersebut.

"luka tebasku berbekas ya"akhirnya aku bicara juga.
"iya...kamu bertenanga sih"-candaannya hanya menanambah rasa bersalahku. "Maaf..."
Ia tersenyum, padahal aku bergumam, tapi sepertinya ia mendengar.  "aku juga salah...pasti di matamu, aku yang pada saat itu terlihat sangat rendah"
"Ya"kubalas tanpa segan-segan.
Dia tertawa, "duh, aku lupa segimana pedasnya omonganmu biasanya itu! padahal itu kan alasan utama kau gak bisa dapat cowo"
Bibirku mencibir "SD pernah kok"
"SD?"nadanya mengejek. "berisik ih!", ia tertawa puas lagi.
tanpa sadar, suasana mulai mencair.
"seminggu ini kamu kemana aja?', aku kembali memuramkan suasana.
Senyumnya mulai pudar. "di semua rumah saudaraku"
"keluargamu?"
"mengusirku tepat di hari aku tau aku hamil, wajar...toh aku pulang masih dengan darah dan luka berlimpahan,  dibawa ke dokter...ketahuan deh", ia bercerita bagai semuanya baik-baik saja, padahal...jelas tidak.
"Aku menginap di rumah saudaraku semalam, ia mengusirku juga...selanjutnya berpindah ke rumah saudara berikutnya, dan yang berikutnya, sampai aku sadar bahwa tiada di antara mereka yang menerimaku. Seperti yang kau bilang...keluargaku religius"
Aku bersimpati, diusir keluarga pasti bukanlah pengalaman yang menyenangkan.
"Tadinya aku niat ke rumah Tio tapi....mengingat bahwa aku yang...yah, intinya aku tak sanggup menemuinya."
"jadi aku datang ke kamu"
Bingung, mau berkata apa, aku bertanya kembali "bagaimana kau bisa merawat janin itu? kau tak punya tabungan kan, kamu boros lagi"
Baru sekarang mukanya serius
"aku berencana keluar sekolah dan bekerja, sulit, tapi aku akan mencoba...aku tak bisa terus nebeng di rumah orang aku butuh...setidaknya kos-kosan kecil, perlengkapan bayi juga perlu, aku...aku akan bejuang demi anakku ini"
Mendengar kata-kata itu aku takjub,  takjub dengan determinasinya dan juga kebodohannya.
"kau akan bekerja keras di saat kau sedang mengandung, aku tau kau masih di tahap awal tapi ayolah, hamil tetaplah hamil kau mau anakmu cacat?"
"yah gimana lagi aku bisa merawat anak ini? emang kau akan membantuku merawatnya?"
"sayangnya, iya!"kujawab dengan cepat, matanya melebar.
Sebenarnya jawabanku tadi juga spontan, padahal perasaan tidak suka pada perempuan ini masih ada...tapi bagaimanapun juga, dia adalah sahabat, bahkan keluarga bagiku.

"luka di tanganmu gara-gara aku, dan secara tidak langsung aku merasa kau ketahuan hamil dan diusir karena aku juga....kau pikir aku orang tak bertanggung jawab apa?!aku akan membiarkanmu tinggal di sini sampai bayimu lahir, biaya perlengkapan bayinya bisa kutanggung-tau sendiri kan aku ngatur uang gimana, kamar kosong juga banyak. Sudahlah sini saja daripada nasib bayimu  terancam"aku berusaha membujuknya, dan juga menyakinkan diriku sendiri bahwa ini merupakan tindakan paling benar. Meskipun hubungan aku dan Nana sekarang menjadi kacau tapi bukan itu yang penting, yang penting bagaimana aku bisa menjamin kelahiran janin yang takbersalah tersebut. Dari wajahnya aku tahu ia merasa bimbang.

"Ortumu bagaimana, emang mereka bakal setuju?"
Ketukan pintu memotong perbicaraan kita
"Mba, Bapak ama Ibu udah pulang tuh"
Pas banget
"yah, tanyakan langsung saja pada orangnya

Jumat, 06 Mei 2011

Sang Penjaga (1)





Sang Penjaga




Langit biru, rumput hijau,"Indahnya"pikirku, sambil menikmati lingkungan sekitar. “Kamilla! sini!" sahut seorang perempuan di tepi danau. 
"Loncat ke air bareng yuk!"ia tersenyum jahil.
"Serius? dinginlah, dalam lagi! yang lain udah di mobil loh!"ucapku ragu
"Biarin, ayo?takut?"
Dahiku mengkerut "enak saja". Dengan cepat aku  menghampirinya, ia menggenggam  tanganku erat.
"Siap?" Kami mundur jauh , berlari gesit-lompat....



“KAMILLA!!”
"hah!?"-aku tersentak, sadar dari dunia mimpiku. Aku menggerutu , "Apa sih Na?"keluhku, kesal. Di depanku sekarang hanyalah kelas kosong dan seorang cewe sebaya yang terlalu kukenal. "Kau tidur terus dari tadi si Bapak udah selesai ngajar loh!"-suara nyaringnya hampir memecahkan gendang telingaku. "ya-ya" dengan malas aku mengambil hpku yang dari tadi kupakai untuk merekam pelajaran guru, merapihkan barang lalu....
Tidur lagi.
"Kamilla!!"-dan diteriaki lagi...yah sudahlah.
"beneran deh kamu ngapain aja sih malam-malam?"ucap sohibku itu, khawatir.
"makan, main The Sims, ngerjain tugas yang mepet, baca buku novel asing"
"Dasar, kamu padahal otaknya pintar banget tapi digunain boro-boro"
"'terserah aku  kan??"balasku cepat. Ia hanya membalas dengan tatapan mata yang gak jelas artinya apa.
Marina Rusyandi-alias  Nana adalah sahabatku sejak kelas 1 SD entah bagaimana, kami selalu satu sekolah, jarang sekelas sih..tapi kebetulan di bangku kelas 3 SMA ini kami sekelas. Marina, itu orangnya ceria, penuh ambisi dan semangat, dengan warna kulit putih pucat, dan bertubuh tinggi kurus, dihiasi dengan rambut hitam kecoklatan yang sedikit melewati bahu. Sementara aku malas, bertampang judes, berkulit sawo matang, cukup berisi, tinggi rata-rata, dan (menurut temanku juga guru sekitar) pintar.

Marina dan aku melengkapi sesama, dia jago olahraga dan pandai berdebat, namun payah dalam pelajaran eksak. Sementara aku pandai dalam eksak, namun payah olahraga, dan payah berdebat ,berbicara kepada khalayak itu merepotkan. Marina juga jadi ketua dan pendiri dari berbagai eskul, malah aku tak percaya masih ada eskul sekolah yang belum menjadikannya ketua. Lalu aku? aku sama tak mengikuti eskul. 
Sohibku ini adalah idola sekolah,berprestasi, tanggung jawab, mudah bersosialisasi, dan sangat baik hati. Sementara aku...aku adalah 'bayangannya', aku memiliki kemampuan...dan sering dengan mudah jadi juara kelas..serta selalu diajak ikut olimpiade dan semacamnya. Tapi aku selalu menolak-kenapa? karena aku tak berniat maju atau berusaha keras seperti dia...itu masalahnya.

Tak sadar akan waktu, ternyata kami sudah sampai di rumah Nana, rumahnya hijau...dekat dari sekolah, berukuran kecil, hampir tak cukup untuk keluarganya yang besar (saudaranya ada 7 coba...)...namun aku jauh lebih nyaman di sini daripada di rumahku sendiri. "eh, Milla..selamat datang hari ini belajar bareng lagi?"sahut Bu Mardiyah, ibunya Nana. "Iya apa kabar bu, maaf merepotkan  terus-terus an"ucapku malu.
"aah gak apa-apa sekalian biar Nana belajar lebih efektif". Kami memasuki  ruang tamu, isinya hanya 3 sofa kuning sederhana, sebuah karpet bulu lebat, dan satu meja kayu panjang. Lalu, tak lama kemudian-seperti biasa-aku diserang semua adik-adik kecil Nana...

Mereka menyerbuku bagai binatang buas. 
"Teh Milla tas ini isinya apa!?"
"eh jangan itu laptop!?"
"PRAAK!!"-dibanting...bagus banget.
“hei Andi nakal!"bentak Nana sambil memegang kedua tangan  adik TKnya itu erat. "Kalau gitu terus entar aku gak akan masak makan malam loh!"ancamnya keras. Andi pun meminta maaf dan bersama saudaranya, mereka berlari ke kamar.
"suatu hari nanti sumpah aku akan sembelih adikmu itu"-keluhku sambil memungut laptop bermerek appleku itu.
"jahat! santai dong kamu kan kaya, punya banyak laptop ini"
"iya tapi yang ini berisi banyak sketsa baju isengku, dan foto pas kita jalan-jalan bareng geng SMP kita ke danau Wirungi, yang pas kita nyebur ke danau terus jadi gatal-gatal parah 3 hari berturut-turut itu, ingat gak?"
"Oh ingat... Aku ingat, tapi kok tumben kamu ingat kamu kan pelupa banget"ejeknya.
"Emang-cuman tadi pas aku tidur di kelas aku mimpiin itu, jadi deh ingat." 
Dengan cepat, semua buku pelajaran dan buku latihan soalku dan Nana terpampang semua, menutupi meja.
Dan aku terdiam melihat jumlahnya
"kita akan belajar buku sebanyak ini?"muka Nana pucat, tak sadar yang harus dipelajari banyak juga.
"berapa buku?"tanyaku takut mendengar angkanya
"...9..."
".........aku mati aja gimana?"
"boleh, nanti kususul..."

****
Malam pun tiba, bintang-bintang menghiasi langit. Di luar, sopir sudah menunggu mengantarku pulang. "wah! ternyata selesai juga 9 buku...Milla jago euy banyak yang ngertinya, cepat ngerjainnya lagi..bete, padahal kamu yang malas tapi malah  aku yang bodo"keluh Nana, sambil memainkan celana piyama bercetak sapinya.
"Udah bakat kali ya.."ucapku menyombong, Nana hanya mengacuhkan ocehanku.
"Kamu gak apa-apa pulang jam segini?udah jam 11..."tanya Nana cemas. "Gak apa-apa toh
 ortu gak pernah di rumah ini, sendiri aja biasa"
"Milla...kalau kesepian.."
"Gak tenang, memang aku gak ditakdirkan memiliki keluarga akrab sepertimu kok..santai-santai"kupaksakan sebuah senyuman.
"kalau maksa senyum begitu, mukamu jelek banget loh" 
"Brengsek!"balasku.
Ia tertawa puas, "ya atuh sok pulang, oh ya besok libur belajar dulu ya"mukanya memelas.
"Kenapa mo pacaran?"ejekku singkat.
"hehe..begitu si Akang udah selesai ujiannya jadi bisa main"senyumnya melebar.
"hah..kasihan ya kamu ama Kang Tio gara-gara dia kuliah kalian jadi susah bertemu."
"Gak juga, lagipula Kakak kan baik jadi selalu nyempatin waktu untukku"
"Iya-iya emang dia baik, ganteng, suci  lagi-tapi kamu jaga dia jangan sampai di kuliah didekatin cewe-cewe juga ya-rapihin tuh gigi"
Nana cemberut "ya-ya cerewet ih, pulang sana"ia mengusirku....jahat.
"yoi...dadah!"

**************

Sesampainya di rumah yang kulihat hanyalah perkakas mewah yang tak ada guna. Rumahku luas, bertingkat tiga…dipenuhi dengan segala rupa benda antik dari seluruh pelosok dunia. Namun…rumah ini sama sekali tak membuatku bahagia. Orang tuaku merupakan pengusaha, mereka berdua memiliki, dan mengetuai perusahaan swasta yang cukup maju di Singapura…akibatnya, aku ditinggal sendirian sementara mereka entah sedang apa di sana. Yah, bukannya aku ditelantarkan juga, di rumah banyak pembantu  dan  ortuku masih suka pulang minimal  5 bulan sekali. Tapi…tetap saja….aku benar-benar kangen dengan mereka berdua.


Pagi hari muncul kembali, dengan mata masih setengah terbuka aku terpaksa bangun dan siap-siap sekolah. Di sekolah, tidak ada hal aneh guru ngejelasin pelajaran, aku tidur seharian, Nana dikerubungi fansnya, dan teman-teman dekatku lainnya ngajak ngobrol. Pulang sekolah, saat aku keluar bareng Nana  baru ada hal menarik, yaitu

Pacar genteng Nana, Tio. “Nana, Milla apa kabar?” sapanya-jelas mata lebih tertuju ke arah Nana. Hari ini Kang Tio memakai jaket kulit hitam dan mengendarai motor ninja merah kesayangannya, rambutnya seperti biasa acak-acakan. Nana berlari kencang, merangkul lengan Tio. “Hai Kang, ujian gimana bagus?” tanyaku, basa-basi.

“Lumayan, kalian sendiri gimana sebentar lagi mau UN dan SPMB kan?”
Keningku berkerut mendengar hal tersebut “umm~gimana ya?”jawabku ragu. Ia hanya tertawa, suaranya merdu. “Yaudah ya,  Nana dan aku mau nge-date dulu hehe”.
“ya, jangan macam-macam ya”ejekku, sebenarnya ga usah diomongin juga Tio gak mungkin ngapa-ngapain sih..gentlemen orangnya. “Ya ga-lah, duluan ya Mill!”, Nana duduk rapat di belakang Tio dan dengan begitu mereka melaju kencang entah kemana.

Lalu aku ke rumah, menikmati kesunyian. Soalnya besok pasti aku akan dibanjiri cerita kejadian  mesra Tio dari si Nana, huh sabar ya telingaku.Tapi, di luar dugaan esoknya tak sekalipun Nana menyinggung Tio. Dia hanya ngomel tentang betapa jeleknya film yang dia tonton dan  itu saja, malah pas aku iseng tanya tentang Tio…ia diam.
“Nan..kamu ama Tio ada masalah?”tanyaku mulai khawatir.
“hah..ah  gak kok cuman….”ia berhenti sejenak.
“Cuman apa?”aku mendesaknya
“….aku dan Tio udah ga berhubungan lagi.”
“HAH!?kenapa?”
“….bukan apa-apa hanya yah persis katamu saja, harusnya kujaga dia dari perempuan lain”ia tersenyum pilu. Dan aku hanya diam.

Beberapa minggu kemudian aku berusaha tak mengungkit Tio di hadapan Nana. Cukup mudah berhubung Nana juga sibuk mengurus acara klubnya, jadi kami agak  jarang ketemu. 2 minggu berlalu, dan aku baru sadar bahwa 3 bulan lagi mau UN….Kampret. Dan juga tugas kelompok aku dan Nana belum selesai double kampret. Buru-buru aku ke lapangan sepak bola ,eskul Nana hari ini.
Di lapangan yang kulihat hanyalah adik kelas , jadi kutanya mereka. “Dik, lihat Nana ga?”tanyaku ke seorang perempuan  manis-mungkin kelas 1. “Teh Nana kak? Tadi dia ke wc kayaknya dia sakit mukanya pucat  tadi juga”
“Oh ya? Makasih dik”Dengan gegas aku menuju wc yang terdekat dari sini. “Nana sakit? Masa sih?-tapi kalau dipikir-pikir dia jadi sering capek akhir-akhir ini, tapi mungkin itu hanya karena sibuk sa…..ja”

Otakku mati melihat pemandangan di depanku, cermin  pecah ,lantai  dibanjiri air menggenang- warna kemerahan tercampur darah.. air keran wastafel terus mengalir. Terdengar  isakan seorang perempuan. “Nan!?”aku mulai panik di  stall paling ujung, kulihat Nana duduk di lantai…berlinangan  air mata, rambut, baju, tangan dinodai muntah…dan darah segar. “Nana‼” dengan spontan aku mengambil gulungan tisu dan mulai mengelap mulut, tangan dan bajunya. “tisunya habis”ucapku spontan. Aku melihat lantai, mencari kain atau semacam, tak ada….

Yang ada hanyalah bercak darah dan  tes kehamilan. Kupungut benda tersebut, hasilnya positif. Mata Nana melebar, sambil berlutut ia menarik rok abuku. “Milla itu…”

“PLAK‼”-tanganku melesat, bekas tangan berwarna merah  sekarang tertinggal di pipi kanannya. 
“Ini apa?” aku menarik kerahnya, menindih badannya di dinding tegel. Suara air terus mengalir.
“Ini apa‼”suaraku kencang, dan sangar..sampai aku sendiri pun ketakutan.
Air mata kembali membasahi wajahnya “Itu punyaku…”
“Bego‼”-badannya kulempar ke lantai. Amarah mengendalikan  tubuhku. “Kapan?”aku tanya lagi
“kecan…terakhir ama Tio…”
“Dia perkosa kamu!?” . Nana diam ia memojokkan diri ketakutan. “JAWAB AKU‼”
“Aku memintanya…”
Aku menatap langit-langit, air mata mulai mengumpal. “Aku sudah mendengar terlalu banyak”aku sudah gak kuat lagi. “Tunggu!” Ia memeluk erat kakiku. “Dia akan meninggalkanku-untuk wanita yang lebih tua…aku tak ingin berpisah dengannya sebelum melakukan hal ‘itu’ dengannya…jadi aku memaksanya untuk..”

“Oh! Jadi kau memaksanya pula? Bagus aku sama sekali ga kecewa ama kamu sekarang!” aku tarik kakiku, menendang mukanya. “aku tak mau  membiarkannya pergi begitu saja! Tolong Mil jangan marah cuman gara-gara ini!”
“CUMAN‼”-aku tak percaya dia berani-beraninya bilang kata-kata itu
“Kau..kamu itu sahabatku, walau aku tak pernah mengakuinya kau itu selama ini…kau inspirasiku tau!…kau kau memiliki segalanya, keluarga yang mencintaimu, orang yang mengagumimu, kau ambisius, berani maju, bertanggung jawab, mandiri, dewasa, cantik. Semua hal yang aku inginkan tapi tak bisa. Setiap hari aku bangga bisa menjadi temanmu. Lalu kau melakukan ini…SPMB…UN…semua  yng menentukan masa depan kita akan terjadi sebentar lagi bukan? Tapi kau…memutuskan untuk membuang itu semua…demi apa? Hanya demi mengubah dirimu menjadi seorang cewek murahan”

“Tidak‼”ia menutup telinganya tak mau mendengar.
“Ngapain tutup telinga, takut dibilang pelacur!? Itu udah fakta tau, kau pikir keluarga mau menerimamu setelah ini!? mengingat segimana religius mereka itu, mengingat segimana pas-pasan mereka sekarang juga, bagaimana kau akan menjelaskannya hah!?”

“Tolong berhenti!jangan begini, kumohon  bantu aku keluar dari masalah ini‼”ia kembali merangkul kakiku. “Lepaskan aku!”aku memungut pecahan kaca tajam, melukai tanganku sendiri dan juga tangannya. Kaca itu menembus tangannya, dan menggores kakiku. Jeritannya menggema, mata basahnya  menatap lurus mataku. “Kau sudah tak berarti apa-apa bagiku”
ia tak mengeluarkan suara.
Aku mengambil tasku dari lantai, “Kau sampah!!”
Itulah kata terakhir yang kuucap padanya….

***

Buku Hitam Langit

BUKU HITAM LANGIT
Dimana-mana kulihat, semua sama saja. Di dinding, di tiang bahkan di jendela mobil sekalipun yang terlihat hanyalah berita dan poster mengenai pemuda yang telah menghilang selama 4 hari berturut-turut. Pemuda itu masih muda, masih SMA, sekitar 16 tahun.  Namanya Langit, dan dari yang kubaca dari koran pagi ini di rumah, pemuda itu cukup tampan dan ia itu orang yang supel serta pandai. Hubungan dengan keluarganya pun baik. Keadaan ekonominya pun luar biasa menggiurkan.

 Tiada yang menyangka bahwa ia akan kabur dari rumah dan menghilang seperti ini. “dasar orang kaya tidak berterimakasih” pikirku saat pertama kali membaca berita tersebut. Namun sekarang, saat aku sedang menyusuri jalan menuju kantor...saat melewati gang sepi yang setiap hari saya lalui....saya sadar bahwa mungkin saya justru yang harus berterimakasih...
Karena di pojok gang tersebut tepat di samping tempat pembuangan sampah terdapatlah badan seorang lelaki, lelaki  yang badannya sudah terbuka jelas namun tanpa isi. Mual dan rasa pusing menyambar seketika, kaki lemas hampir tak berdaya. “Tidak kau harus kuat!”pikirku, berusaha menguatkan diri. Dengan tubuh bergemetar aku mencoba melihat baik-baik wajah lelaki itu. Matanya tercongkel dan mulutnya penuh dengan belatung, pipinya dihiasi dengan berbagai luka goresan pisau.

“Mungkin bukan lelaki yang sama...”pikirku lagi, awalnya aku sempat mengira mayat yang telah busuk ini pemuda yang diberitakan hilang itu.... namun, mungkin saja aku salah. Aku menarik napas panjang, dan berusaha tenang. Dengan tergesa-gesa aku segera meraih telepon dan hendak menelpon polisi, telepon sudah terhubungkan namun “halo-ak-Aduuh!?”kalimatku terputus, akibat dari kecerobohanku sendiri. Kakiku tersandung sesuatu mungkin batu atau mungkin tangan mayat yang tergeletak di sampingku itu, apapun penyebabnya yang jelas sekarang hpku jatuh,menggelincir jauh dan lututku tergores.
Aku merintih kesakitan sambil mencoba berdiri dan merapihkan seragam kerjaku, sepatu hak-ku hilang sebelah, mungin tersangkut di benda yang menjatuhkanku tadi. Aku amati baik-baik dan ternyata benar, sepatuku sekarang berada di atas sebuah buku hitam. Buku hitam misterius yang terlihat kusam dan dekil. 

 Kupungut buku tersebut dari aspal. Aku membuka beberapa lembar pertama, tidak dicantumkan nama pemilik namun, terdapat beberapa paragraf disertai tanggal masing-masing. “mungkin ini diari lelaki ini...sebaiknya aku segera lapor polisi”-seraya aku mencari hp, untungnya masih utuh dan sepertinya tidak begitu rusak. Secepatnya aku meraihnya dan...tiba-tiba hpku bunyi. Di Layar terpampang jelas tulisan “BOS”. “Iya bos?”aku bereaksi spontan.
“Rani!?Kamu Ya dasar di mana sih dari tadi kutunggu, ini sudah ketiga kali kau telat tau mau kupecat!?”ancamnya tegas.
“Eh ah..pecat!? jangan bos aku entar gimana nyari uang a-“
“yasudah kalau mau cari kerja datang yang tepat dan KERJA, bego!”
“i..iya maafkan saya saya segera ke sana!” . Panik, aku langsung kabur dari tempat lupa akan seluruh kejadian di gang itu. 

 Sesampainya di kantor bos sudah menanti, wajah merah, mata melotot, teriakan menggelegar dan beribu komentar kuhadapi. Semua kubalas dengan permintaan maaf dan segera menuju bangku seketariat ku. Begitu duduk baru kusadari bahwa aku telah melantarkan mayat lelaki itu, takut bos akan mengira ceritaku hanya sekadar bualan, aku berusaha melupakan kejadian tersebut dan melanjutkan kerja-toh pasti orang lain akan sadar bukan?

“Brugh” tasku jatuh berhamburan isinya semua...”hari ini emang sial”aku menggerutu kesal. Kulihat buku hitam usang itu lagi. “Haaaah!? Gimana ini??”pikirku panik. “he-em””bosku kembali melototiku dar seberang ruangan. “gawat, aku tak mau kehilangan pekerjaan, bahkan demi nyawa orang sekalipun”.
Dengan berat hati aku kembali menghadap komputer...namun, kali ini buku hitam itu kupangku dan diam-diam kubaca-sekedar untuk menghilangkan rasa penasaran. Buku hitam itu ternyata diari , bertanggal namun tahunnya dicoret tinta sampai tak terbaca lagi..aneh...kubaca diari itu baik-baik.

Senin, 10 Maret
Hari ini kulihat wanita cantik berjalan di atas trotoar, ia memakai pakaian rapih, rok abu dengan blazer yang selaras motif dan warnanya. Ia sepertinya jauh lebih tua dariku tapi aku gak keberatan, usia hanyalah kendala kecil bagiku.

Selasa, 11 Maret
Bayangan wanita itu terus terngiang-ngiang dalam kepalaku, teman-teman di sekolah semua mengira aku gila ngejar ibu-ibu. Tapi aku tak peduli, toh cewek menantang semakin menarik.Jadi, keesokan harinya aku pergi ke tempat yang sama dimana aku pertama aku melihat wanita itu. Dan takdir tuhan kali ya?aku menemuinya ia nyapa gue asiiiik....emang sih nyapanya  ’adik ada urusan apa di sini?’ tapi, gak apa-apa yang penting bisa kenalan. Aku jawab ’lagi nyari orang,tau ga kak  orangnya tingggi berambut pirang serangam kantornya persis kaya kakak’
‘pirang??’jawabnya heran (mukanya imut loh pas tercengang gitu hehe). ‘salah kayaknya deh di kantor kakak gak ada orang kayak gitu’
‘emang kakak kerja di mana?’ aku udah semangat menggebu-gebu. Wanita yang kutaksir itu diam sejenak mungkin ragu menjawab namun, setelah aku menunjukkan muka memelasku hatinya langsung luluh (atau malah jijik hmm). ‘Kakak sih kerja di Kantor seberang taman Anggrek, yakin kenalan  adik kerja di situ?’
‘harusnya sih iya...tapi entar aku tanya teman aku  lagi deh makasih kak!’ aku kabur-takut senyumku makin lebar saja.

 Kutengok kembali komputer sejenak, “seberang Taman Anggrek?itu bukannya kantorku ya?lagipula seragam kantornya sepertinya sama...”pikirku, heran....wanita ini siapa aslinya ya...
Aku bekerja semenit-dua menit, kemudian membaca buku itu kembali, sejumlah halaman sepertinya robek dan sebagian lagi basah sehingga tak kubaca. Kuloncat ke halaman yang tengah-tengah.

Minggu 20 April
Hari ini aku dan Ani kencan, seperti dugaannya kita menjadi tontonan masyarakat. Wajar sih aneh kan liat anak SMA dan wanita kantor berusia 27 tahun berduaan. Emang kita ga pake seragam jadi paling keliatan kaya kakak dan adik jalan-jalan, namun masalahnya gak mungkin ada adik kakak yang ciuman bibir dan pegangan tangan sepanjang jalan kan??
...Hubungan aku ama Ani bagus banget, mesrraaaa man. Gak sia-sia aku datang ke kantornya tiap pulang sekolah. Surga Duniaaaa deh me and Aniii~

“Ani..Anita Salliandra? bukannya itu seketaris sebelum aku ya?”-aku semakin bingung saja. Kulihat jarak antar tanggal diarinya makin jauh saja.

Rabu, 1 Mei
Hubungan Ani dan aku akhir-akhir ini  semakin aneh, dia menjadi terlalu melekat pada diriku apapun yang kulakukan sepertinya tak cukup untuknya . Awalnya kukira hubungan kita ini akan menjadi hubungan yang ringan dan santai. Namun kenapa menjadi begini?....apa kuputus saja hubungannya?

Kamis 24 Mei
Ada cewe cantik baru di kelas, tomboy dan pintar, tipe kesukaanku....mangsa baru nihhhhhhh, emang ada yang lbih daripada Ani ya? haah aku emang terlalu cinta wanita.

Sabtu 17 Juni
AKHIRNYA AKU BEBAS DARI ANI! Dia emang terlalu nempel, padahal lebih tua aneh deh ya ga papa sekarang aku bisa pamer kegantenganku ke seluruh dunia dengan bebas. Aaah pasti cewe-cewe di kelasku bakal senang banget haha naon sih, yah yang penting  aku bebas, dan aku bisa mulai PDKT dengan Stella...my new future girlfriend J

Selasa 20 Juni
..Ada yang salah dengan Ani, dia terus menelponku dan itu sanggat mengganggu, dia mulai menerorku, bahkan bilang ia hamil karenaku padahal kita gak pernah melakukan apapun seekstrim itu. Ia bilang ia tak bisa hidup tanpaku....Aku....merasa tidak nyaman.

Jum’at 23 Juni
Nilaiku mulai turun, tubuhku capek, aku tak bisa konsentrasi semua khawatir. Ini semua karena Ani, dia mengirim mawar mati ke sekolah kemarin, dan sebelumnya ia mengirim bangkai tikus di depan rumah-untung orang tuaku lagi pergi. Aku perlu menyingkirkan dia, aku harus bicara dengannya  secepatnya!
  
Kepalaku mendongak ke atas, sejenak...syukurlah bosku masih sibuk di ruang kerjanya, aku melanjutkan kegiatanku.....di bagian tengah buku terdapat bercak darah  dan saat aku terus mengamati halaman sesudahnya.....kulihat sebuah telinga....yang telah busuk, ditempel di halaman buku tersebut....perutku serasa berputar. Rasa takut menggoncang tubuh, namun rasa penasaranku lebih mendominasi, kubaca halaman berikutnya.

Berbeda dengan halaman-halaman sebelumnya halaman ini ditulis dengan tulisan lebih berantakan dan seolah sang penulis  terburu-buru.  Formatnya pun berbeda.

Hari 1,
Hari ini dia datang kekasihku datang, ia mengunjungiku di rumahkku..wajar toh aku sudah dipecat dari tempat kerjaku. Menurut mereka aku terlalu mudah hilang konsentrasi , padahal wanita yang jatuh cinta memang berhak mudah melamun dan mengkhayal bukan? Huh....mereka tak mengerti...mereka berani-beraninya menggantikanku dengan gadis baru, siapa namanya Rani ya? Huh...awas saja pasti akan kubalas...sama seperti bagaimana aku akan membalas kekasihku tercinta ini.
Aku benar-benar  tak dapat menahan tawa saat ia datang hanya untuk menyuruhku untuk menjauhinya...padahal aku yakin bahwa di dalam lubuk hatinya sebenarnya ia ingin pindah dan tinggal bersamaku bukan, dia tak mungkin ingin berpisah kan? pasti ia menginginkanku, pasti-pasti....
Makanya, saat ia hendak pulang aku hantam saja kepalanya dengan laptopku, kemudian kuikat dan kukunci di garasi...agar dia sadar bahwa sebenarnya akulah satu-satunya gadis yang ia butuhkan. Buku diarinya juga sekarang berada di tanganku...tak apa kan toh aku kekasihnya dia pasti akan rela kalau aku mengisi diarinya ini kan? Senangnya...sang  kekasih sudah kembali di sisiku.

Hari 2
 Kenapa...kenapa kekasihku tak mau makan padahal aku ingin menjaganya dan merawatnya tetapi mengapa ia terus menolakku!? Kenapa ia ingin kabur dariku kenapa!?kenapa!?.....
Apakah aku harus membiarkannya pergi?
Beberapa halaman diloncat....

Hari 3
Aku tak mau memaksanya mencintaiku tetapi aku tak mau berpisah dengannya begitu saja...aku ingin dia meskipun hanya satu bagian saja....
...teriakannya terngiang-ngiang dalam kepalaku...
Saat aku mematahkan rusuknya, saat aku menikam pahanya, saat aku menebas kepalanya dan saat aku mencabut jantungnya....semua akan terus kuingat sampai tetes darahnya yang terakhir....sekarang tubuhnya milikku mata, jari dan hati...(jantung), semua milikku, dan sekarang aku bisa merelakan kekasihku pergi...

Hari 4
Kutinggalkan kekasihku dekat gang yang sering kulalui menuju kantor, sementara itu rumahku masih berbau tidak sedap dan dicat oleh warna merah yang memusingkan mata...sebaiknya aku segera bersihkan semua ini...toh sekarang sudah 4 hari sejak Langit...kekasih sejatiku hilang. Pasti, keluarga dan temannya mengkhawatirkannya. Polisi juga pasti sudah meningkatkan pencarian mereka...sebaiknya aku berhati-hati dan berusaha bersikap biasa sebisa mungkin...aku tak ingin dipenjara tapi lebih penting lagi...aku tak mau kehilangan kesempatan untuk membunuh penggantiku di kantor....juga...gadis cantik di SMA itu ...Stella kalau gak salah namanya ya?

Buku itu langsung tergelincir dari jari-jemariku...
“dia ...mengincarku..”pikirku masih terpaku di tempat dudukku, mulut terbuka lebar, kaki tertancap di lantai. “Dia bunuh Langit..”pikirku lagi kesadaran mulai kembali pada tubuhku...
“Tidddaaaak!!’jeritan melengking terlontar dari mulutku air mata berlinangan rasa takut yang tak pernah kubayangkan menyerang dalam seketika. Aku lari menuju pintu, sama sekali tidak menghiraukan keadaan sekitar. “Rani tunggu kamu kenapa?” tiba-tiba bosku menghadang, ia memegang pergelangan tanganku dengan begitu kuat. Berbagai suara erangan mengerikan keluar dari mulutku, “lepaskan aku..di..dia bunuh lelaki yang di koran itu lelaki yang hilang dia bunuh Langit!?”

“Apa maksudmu?Siapa?siapa yang membunuh Langit?” ia menatapku seolah aku ini orang sinting...
Pandanganku mulai kabur, semua terlihat buram dan ruangan serasa berputar tanpa henti. “Siapa yang membunuh?”ia bertanya lagi, kali ini suaranya terdengar berbeda, apakah masih orang yang sama?
“Ani...”jawabku pelan. “Ani!?tapi...Ani itu kan kamu!”
Mataku terbuka lebar di saat itu juga, kulihat kanan kiri...ruangan apa ini? Mengapa ruang kerjaku..menjadi ruangan putih kosong dan berbau obat begini?

“Ani...kau tak apa-apa?”-di depanku terdapat seorang lelaki berjubah putih, ia menngenggam kedua tanganku kuat-kuat, kulihat baik-baik pergelangan tanganku..penuh luka gores-apakah aku yang melakukan itu? “siapakah kau?” tanyaku dengan suara kecil. Pria dewasa berjenggot itu menggelengkan kepalanya. Ian menghela napas panjang mukanya terlihat kusut “..aku doktermu, Dr. Tedi, ingat?” ia memeriksa nadi dan mataku.

“Sepertinya kau berhalusinasi lagi...dan kau mencuri diari itu dari ruang dokumen ya?dasar..kalau begini bagaimana kau bisa sembuh?”ucapnya dengan suara penuh khawatir.
“sembuh? Apa maksudmu kenapa aku di sini? Bagaimana dengan An?”. Dokter tersebut hanya menggelengkan kepala dan keluar dari ruangan putih itu, sementar aku duduk di kasur yang tak jauh dariku. Kudengar suara dokter tersebut di balik pintu.
“Lagi-lagi Ani begitu...”
“kondisinya selalu memburuk setiap hari”-seorang wanita, mungkin suster berbincang dengannya.
“Ia terus ingat akan kejadian itu, kejadian 3 tahun lalu dimana dia menahan dan membunuh pemuda bernama Langit itu...”
“dan ia kerap tak percaya bahwa ia sendiri adalah Ani...ilusinya juga semakin parah ia terus berpikir bahwa ia akan jadi korban berikutnya ‘Ani’ padahal yang ia takuti itu dirinya sendiri, hah.. aku tak tahu apa yang harus kita lakukan gadis itu...dia sudah tak terselamatkan”. Mereka pergi, langkah kaki dan suara  mereka semakin jauh. Semuanya jadi hening...
Dan aku hanya terdiam di sana bingung...